Jika Bioskop Indonesia tanpa film luar

19 Feb
https://i2.wp.com/indocashregister.com/wp-content/uploads/2011/02/HOLLYWOOD-SIGN-300x225.jpg
Ternyata penghentian penayangan film-film asing produksi Hollywood, India, China, Korea, Eropa dan lain sebagainya, tidak hanya berlaku untuk bioskop 21 dan XXI saja. Tetapi juga untuk bioskop di luar jaringan itu. “Jadi seluruh bioskop di Indonesia tidak akan bisa menayangkan film asing dari negara mana pun,” tandas Noorca M. Masardi saat dihubungi Jumat (18/2/2011) malam.

Yang menjadi penyebab semua ini adalah keberatan pihak Motion Picture Association of America (MPAA) atas kebijakan bea masuk dan pajak yang amat memberatkan. “Ini memang keputusan sepihak pihak MPAA. Penyebabnya mereka keberatan dengan bea masuk dan pajak atas film impor yang diterapkan. Menurut mereka peraturan ini tidak lazim dan tak ada di belahan dunia mana pun juga,” tandasnya.

Keputusan penghentian penayangan film-film asing di bioskop di seluruh Indonesia di kemukakan oleh Frank S. Rittman, Vice President Deputy Managing Director Regional Policy Office ASia-Pasicif MPAA usai premier film Black Swan di Jakarta Theater, Kamis (17/2/2011). “Saat itu dia bilang kepada penonton dan wartawan yang hadir begini, Anda semua beruntung bisa menonton film ini. Soalnya film ini tidak akan ditayangkan untuk umum karena MPAA menarik semua film yang akan didistribusikan di bioskop seluruh Indonesia,” katanya.

Selama ini tiap kopi film impor yang masuk ke Indonesia, dikenakan bea masuk+pph+ppn sebesar 23,75% dari nilai barang. Tidak hanya itu, Ditjen Pajak dan Kemenkeu juga selalu menerima pembayaran pajak penghasilan 15% dari hasil pemutaran setiap film impor yang diedarkan di Indonesia.SEANDAINYA…

ThinkStockPhotos

Alkisah, di masa depan yang tak terlalu jauh, dua sahabat sedang ngopi-ngopi di sebuah kafe. Hari Jumat sudah berlalu, akhir pekan tiba, dan mereka tak ada rencana malam itu. Mas Eksmud berpikir untuk mengajak Mbak Karir ke bioskop saja, terlalu pagi untuk clubbing. Ia melontarkan idenya.

“Rir, gimana kalau kita nonton aja.”

Mbak Karir tersenyum, akhirnya diajak nonton juga.

“Ih, tumben ngajak aku nonton, Mud. Emang kamu mau nontonnya apa?”

Ah, sepertinya ajakan ini tepat. Mas Eksmud sebetulnya belum tahu ada film apa di bioskop, jadi ia berpikir akan menurut saja akan pilihan si mbak. Mereka pun mulai membahas.

“Terserah kamu aja Rir, pokoknya yang kamu suka.”
“Bener yaaa, coba aku cek jadwal bioskop hari ini.”

Mbak Karir langsung membuka situs informasi bioskop lewat smartphone nya. Iya dong, sekarang saja semua begitu, apalagi ini kan ceritanya di masa depan. Sekejap pun muncul di layar, daftar film yang diputar di bioskop mal kelas menengah atas di mana kafe itu berada.

“Kita nonton yang sorean kan, Mud? Aku males kalau yang kemaleman”.
“Boleh, terserah kamu aja.”
“Ini yang jam 7-an ya… Cinta Putri 6, Permaisuri Yang Tertukar 5, Spider-Gadis 2, sama Godaan Alien Sexy.”

Selamat datang di masa depan. Ceritanya, sejak film import dikenakan pajak royalti yang baru oleh pemerintah, perlahan-lahan film asing berkurang dari layar bioskop sampai akhirnya nyaris tak ada. Dan akhirnya, bioskop mulai menayangkan sinetron, ya, produksi sinetron yang dipaksakan untuk bioskop. Absurd ya? Biarin aja, ini kan khayalan saya. Kembali ke kafe, Mas Eksmud berpikir sejenak akan pilihannya.

Godaan Alien Sexy. Ah iya. Kedengarannya menjanjikan, old school gitu.

“Hmm… Aku nggak ngikutin Cinta Putri. Permaisuri udah nonton. Spider-Gadis ini yang mana sih ya, Rir?”
“Itu, Mud, yang main si Shinohara. Ceritanya superhero gitu deh.”
“Wah, cakep tuh.”
“Dasar, begitu cewek berbaju ketat, aja, mau kamunya. Nggak mood ah.”.
“Ya mood-nya apa dong, ya aku ngikut aja Rir.”.
“Lagi pengen nonton film yang agak berat gitu.”.

Film yang “agak berat”. Sangar.

“Weits, keren bener nih, pengen nonton yang berat-berat.”
“Sekali-sekali, Mud. Buat variasi, kan bosen juga nonton yang hiburan cetek.”
“Hahaha setuju, sip lah Rir. Sekali-sekali nonton yang agak ‘nyeni’ gitu. Yuk.”
“Asiiik… Kita ke bioskop sekarang ya, filmnya 1 jam lagi.”

Keduanya langsung beranjak dan bersiap pergi ke bioskop. Mas Eksmud seperti berpikir sejenak.

“Dulu, film kita kadang masih ada ya yang kualitasnya diakui dunia. Sekarang nggak ada lagi yang kayak dulu ya, Rir.”
“Ya dulu aja langka, sekarang masih ada film serius begini aja udah sukur.”

Iya, Mas Eksmud berpikir. Dulu pun kalau ada film yang bisa menembus dan dapat penghargaan di luar negeri itu pun karena produsernya sendiri yang niat membiayai sendiri. Sekarang mungkin mereka sudah kapok.

“Apa tadi, judulnya? Aku lupa.”
“Godaan Alien Sexy.”
“Ah iya. Kedengarannya menjanjikan, old school gitu.”

Tampaknya di masa depan dunia khayalan ini sudah semakin absurd dan terbolak-balik.  Ya, ini memang cuma mimpi buruk yang lebay. Jadi terpikir setelah melihat pembahasan yang baru berkembang tentang pajak royalti akan film import dan gosip kemungkinan produsen film AS memboikot eksport ke Indonesia. Yah, jadi sekedar berkhayal, seperti apa bioskop kita andai produksi film nasional akhirnya koma dan film import tidak ada.

DIHENTIKAN

21 Cineplex Surabaya belum bisa memberi tanggapan dihentikannya peredaran film asing di Indonesia. 21 cineplex di Surabaya dan cabang daerah lain akan menunggu keputusan dari 21 Cineplex pusat.

“Untuk sementara kami belum bisa mengambil kebijakan. Kami kan belum mengetahui
secara pasti. Kami menunggu keputusan dari pusat,” kata HRD 21 Cineplex
Surabaya, Gunawan, saat dihubungi detiksurabaya.com, Sabtu (19/2/2011).

Meski ada isu tersebut, Gunawan mengatakan animo penonton yang datang ke
bioskop normal seperti biasa. 21 Cineplex Surabaya juga tetap memutar film-film
nya semisal King’s Speech, The Book of Eli, The Fighter, The Green Hornet, 22
Bullets dan lain sebagainya.

“Penonton masih normal datang ke bisokop,” tandas Gunawan.

Seperti diketahui, industri film terbesar di dunia, Hollywood memutuskan untuk berhenti mengedarkan produksi film mereka di Indonesia. Hal itu dilatarbelakangi kebijakan pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Bea Cukai yang memberlakukan beban bea masuk atas hak distribusi film impor.

Ini artinya, pemerintah menambah beban biaya film asing yang ingin masuk ke Indonesia. Penerapan peraturan baru tentang impor film asing yang dilakukan Dirjen Pajak juga berpengaruh kepada peredaran film Eropa, Mandarin, dan India atau Bollywood. Pihak importir film Indonesia ogah mendatangkan film-film tersebut.

Konsumsi VCD & DVD Bajakan Bisa Meningkat Jika Film Asing Stop Beredar

Dampak negatif akan timbul jika distributor film asing berhenti mengirim film Hollywood, Mandarin, Eropa, dan India ke Indonesia. Bisa jadi konsumsi VCD atau DVD bajakan akan meningkat.

Hal tersebut dikatakan Surtadara Hanung Bramantyo saat dihubungi detikhot, Sabtu (19/2/2011). Dengan maraknya film luar saja konsumsi VCD dan DVD bajakan banyak, bagaimana kalau —misal— film Hollywood stop beredar di Indonesia?

“Itu akan membuat masyarakat kita akan meningkatkan konsumsi DVD atau VCD bajakan. Mereka akan mencari karena film luar nggak ada di bioskop,” kata suami aktris Zaskia Mecca itu.

Jauh dari itu, dampak terbesar tidak beredarnya film Hollywood di Indonesia berpengaruh terhadap pengetahuan masyarakat dan senias lokal. Arus informasi perkembangan film luar akan tertutup.

“Kita akan sama sekali nggak bisa akses. Tentunya akan merugikan secara ilmu pengetahuan. Keberadaan film luar itu bagus untuk dijadikan perbandingan, dan pengetahuan untuk tekhnologi baru,” papar Hanung.

Misalnya saja, di Hollywood tengah diramaikan dengan film 3D. Bagaimana bisa, lanjut Hanung, kita tahu soal itu jika tidak ada film 3D Hollywood masuk di Indonesia?

“Maka akan sulit sekali jika itu terjadi. Karena informasi itu bisa dijadikan pelajaran,” jelasnya.

DAMPAK EKONOMI

Karena Ditjen Bea Cukai tidak mau memahami/menanggapi seluruh argumen penolakan/keberatan terhadap Bea Masuk Atas Hak Distribusi Film Impor yang diajukan oleh pihak MPA (Motion Picture Association) ataupun Ikatan Perusahaan Film Impor Indonesia (Ikapifi), Bioskop 21, dll, yang mana ketentuan tersebut dianggap tak lazim di negara mana pun di dunia ini, MPA sebagai Asosiasi Produser Film Amerika pun mengambil langkah tegas.

Dengan mempertimbangkan bahwa film bioskop bukan produk olahan pabrik, melainkan karya cipta yang tidak bisa diperjualbelikan, yang merupakan pemberian hak eksploitasi atas hak cipta yang diberikan oleh pemilik film kepada distributor /bioskop, dan penonton hanya membayar tanda masuk untuk bisa menikmatinya dan tidak bisa membawa film sebagai barang.

Dan untuk hasil eksploitasi jasa itu selama ini pemilik film sudah membayar sebesar 15% berupa pajak penghasilan (PPh) kepada negara, maka MPA memutuskan bahwa selama ketentuan bea masuk atas hak distribusi film impor itu diberlakukan, maka seluruh film Amerika Serikat tak akan didistribusikan di seluruh wilayah Indonesia, terhitung sejak hari Kamis, tanggal 17 Februari 2011.

Film-film impor yang baru dan yang ‘barang’-nya sudah masuk, seperti BLACK SWAN, TRUE GRIT dan 127 HOURS, yang sudah membayar bea masuk sesuai ketentuan yang berlaku selama ini, tidak akan ditayangkan di Indonesia.

Sedangkan untuk film-film impor yang sedang tayang, bisa dicabut sewaktu-waktu apabila pihak pemilik film impor menyatakan mencabut hak edarnya di Indonesia. Dan akibat langsung dari dicabutnya Hak Distribusi Film Impor untuk Indonesia itu adalah sebagai berikut:

  1. Ditjen Bea Cukai/Ditjen Pajak/Pemda/Pemkot/Pemkab akan kehilangan rencana anggaran pendapatan dari film impor sebesar 23,75% atas bea masuk barang, 15% PPh hasil eksploitasi film impor, dan Pemda/Pemkot/Pemkab akan kehilangan 10-15% pajak tontonan sebagai pendapatan asli daerah.
  2. Bioskop 21 Cineplex dengan sekitar 500 layarnya, sebagai pihak yang diberi hak untuk menayangkan film impor, akan kehilangan pasokan ratusan judul film setiap tahun, sementara film nasional selama baru mampu berproduksi 50-60 judul/tahun.
  3. Dengan akan merosotnya jumlah penonton film (impor) ke bioskop, maka eksistensi industri bioskop di Indonesia akan terancam.
  4. Nasib 10 ribu karyawan 21 Cineplex dan keluarganya, akan terancam.
  5. Penonton film impor di Indonesia akan kehilangan hak akan informasi yang dilindungi UUD.
  6. Industri food and beverage, seperti cafe dan resto, akan terkena dampaknya, juga pengunjung ke mall/pusat perbelanjaan, parkir, dll.
  7. Industri perfilman nasional harus meningkatkan jumlah produksi dan jumlah kopi filmnya bila ingin ‘memanfaatkan’ peluang itu, yang berarti harus meningkatkan permodalannya, sementara kecenderungan penonton film Indonesia terus merosot.
Iklan

Satu Tanggapan to “Jika Bioskop Indonesia tanpa film luar”

  1. annon Februari 20, 2011 pada 2:17 pm #

    nice tulisan..
    itu 7 poin trakhir.. dri pngamatan sendiri /ada sumber na

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: